Dalam sepekan terakhir, jalanan di berbagai kota Indonesia menjadi saksi bisu amarah publik. Bukan amarah yang dibakar provokasi, tetapi kemuakan yang menumpuk bertahun-tahun: muak melihat anggota DPR menikmati kemewahan yang dibiayai pajak rakyat, muak pada aparat yang semakin arogan, muak pada janji perubahan yang terus dikhianati oleh realitas.
Pemicu kemarahan ini bermula dari tragedi memilukan: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meregang nyawa setelah ditabrak kendaraan polisi saat aksi di Jakarta. Video yang beredar luas bukan sekadar rekaman peristiwa, melainkan bukti telanjang bahwa nyawa rakyat bisa melayang tanpa pertanggungjawaban. Tragedi ini menjadi bahan bakar yang menyalakan bara kemarahan hingga ke pelosok negeri.
DPR: Menikmati Kemewahan di Atas Luka Rakyat
Di tengah rakyat yang berjuang menghadapi harga pangan yang kian mencekik dan lapangan kerja yang semakin sempit, para wakil rakyat di Senayan hidup bak bangsawan: tunjangan rumah mewah, perjalanan dinas ke luar negeri, hingga fasilitas eksklusif lain yang nilainya miliaran rupiah setiap tahunnya. Ironisnya, semua ini dibiayai oleh rakyat yang tiap bulan dipotong pajaknya tanpa ampun. Tak mengherankan bila tuntutan paling lantang adalah penghapusan seluruh tunjangan tidak masuk akal yang menjadi simbol ketimpangan ini.
Kepolisian yang Kehilangan Kepercayaan Publik
Reformasi Polri kini bukan sekadar wacana, tetapi tuntutan mendesak. Polisi yang seharusnya menjadi pelindung justru tampil sebagai algojo: memukul, menembakkan gas air mata, menangkapi demonstran, bahkan menabrak massa yang tak berdaya. Di mata publik, institusi ini telah kehilangan wajah kemanusiaannya. Pencitraan dengan jargon “presisi” tak lagi cukup; publik menuntut bersih-bersih menyeluruh dan akuntabilitas nyata.
Api yang Menyala di Mana-Mana
Dari Makassar, di mana kantor DPRD dibakar dan tiga pegawai tewas, hingga Bandung, Yogyakarta, dan Bali, gelombang aksi menyebar. Beberapa berujung rusuh, dengan kendaraan mewah dibakar dan rumah pejabat dilempari. Ini bukan sekadar anarkisme; ini adalah alarm paling keras dari rakyat yang merasa suaranya tak pernah didengar.
Respons Pemerintah yang Setengah Hati
Tekanan publik memaksa pemerintah mengambil langkah: pemangkasan tunjangan DPR diumumkan, beberapa fasilitas dibatalkan. Namun, publik melihat ini bukan solusi, melainkan kosmetik belaka. Rakyat menginginkan reformasi menyeluruh, bukan sekadar pengurangan jatah makan siang para politisi.
Alih-alih menenangkan, ancaman kepada demonstran yang disebut “pengkhianat” justru memperkeruh keadaan. Ancaman bukan jawaban; dialog terbuka, akuntabilitas, dan keberanian mengakui kesalahan adalah jalan satu-satunya untuk meredam krisis kepercayaan ini.
Tuntutan yang Tak Bisa Diabaikan
Suara dari jalanan kini tak bisa lagi dipinggirkan:
-
Cabut seluruh tunjangan DPR yang tak masuk akal.
-
Lakukan reformasi total kepolisian dan adili pelaku kekerasan.
-
Wujudkan transparansi anggaran dan keadilan ekonomi.
-
Tegakkan keadilan untuk Affan dan seluruh korban represifitas.
Rakyat Tidak Akan Diam Lagi
Gelombang protes ini bukanlah ledakan sesaat, melainkan akumulasi kekecewaan yang telah lama dipendam. Pemerintah boleh mengirim pasukan, menutup jalan, atau membungkam media, tetapi suara rakyat tidak akan padam. Suara itu lahir dari perut yang lapar, dompet yang kosong, dan hati yang lelah dibohongi.
Jika penguasa terus menutup telinga, sejarah akan mencatat satu hal: bahwa pada akhirnya rakyatlah yang memaksa perubahan, meski harus membayar harga yang sangat mahal.