Selasa, 19 Agustus 2025

Guru Beban Negara ?


Ada satu hal yang selalu membuatku kagum: ketulusan seorang guru. Di ruang kelas yang sederhana, di balik papan tulis penuh coretan, atau di sekolah pelosok yang bahkan listriknya tak selalu menyala, guru tetap hadir. Mereka datang bukan karena gaji yang melimpah, bukan pula karena janji kemewahan, melainkan karena cinta. Cinta pada ilmu, cinta pada murid, dan cinta pada negeri ini.

Maka ketika muncul potongan video yang menarasikan guru sebagai “beban negara”, rasanya ada yang menyesak di dada. Bagaimana mungkin pelita bangsa disebut sebagai beban? Meski kemudian terbukti bahwa video itu hanyalah manipulasi, luka kecil sempat tergores. Sebab pernyataan semacam itu, benar atau tidak, menyentuh sisi paling rapuh dari profesi guru: kesejahteraan yang masih sering dipertanyakan.

Saya percaya, ucapan Menteri Keuangan dalam versi aslinya bukan untuk merendahkan guru. Ia hanya sedang mengulas beratnya beban fiskal, rendahnya gaji guru dan dosen, serta dilema apakah negara mampu menanggung semua. Namun di balik kalimat itu, ada pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama: apakah pendidikan boleh ditimbang dengan logika untung-rugi? Apakah masa depan anak-anak bangsa bisa dihitung sebatas neraca keuangan?

Bagiku jawabannya jelas: tidak. Guru bukan angka dalam laporan fiskal. Guru adalah napas peradaban. Ia menyalakan api kecil di dada murid-muridnya, api yang suatu hari bisa menjadi terang peradaban bangsa. Menyebut mereka beban sama saja dengan melupakan siapa yang dulu mengajari kita membaca, menulis, dan memahami dunia.

Negara memang telah menaikkan anggaran pendidikan, bahkan mencapai ratusan triliun. Itu sebuah kabar baik. Tetapi yang paling penting adalah memastikan bahwa anggaran itu benar-benar sampai kepada mereka yang berhak. Agar guru honorer di desa tidak lagi merasa asing di tanah sendiri, agar guru di pelosok tak lagi dihargai sekadar dengan selembar amplop tipis, agar pengabdian yang begitu suci tidak terus-menerus dipertaruhkan dengan penderitaan.

Saya selalu percaya, guru bukanlah beban negara. Justru merekalah alas pijak bangsa ini berdiri. Jika negeri ini ibarat pohon besar, maka guru adalah akar yang mengikat tanah, yang membuat batang tetap tegak, yang memberi jalan bagi daun dan ranting untuk tumbuh. Mengabaikan mereka sama dengan merelakan pohon itu rapuh diterpa angin.

Dan di sanalah harapan saya: semoga kita, lewat suara maupun tindakan, terus mengingat bahwa hormat pada guru bukan sekadar seremonial di Hari Pendidikan. Hormat pada guru adalah menjaga mereka tetap layak hidup, layak dihargai, dan layak dicintai oleh negara yang mereka perjuangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nadiem Makarim Ditahan: Skandal Pengadaan Laptop Chromebook yang Mengguncang Dunia Pendidikan

P ada Kamis, 4 September 2025, Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung) menetapkan Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaa...