"Bukan sekolah yang rusak, tapi sistem pendidikan yang membusuk pelan-pelan."
Membaca buku Sekolah Dibubarkan Saja karya Chu Diel bukan hanya seperti membuka lembar demi lembar kertas, tapi juga membuka luka dan pertanyaan tentang sistem pendidikan yang selama ini kita anggap suci dan tak boleh diganggu gugat. Buku ini tidak menawarkan solusi manis. Ia menggugat, mengkritik, dan memukul keras wajah pendidikan formal yang penuh ilusi.
Sekolah, Institusi atau Mesin?
Dalam buku ini, Diel menunjukkan bahwa sekolah bukan lagi sekadar ruang belajar, tapi telah menjelma menjadi pabrik homogenisasi memaksa semua anak berpikir seragam, berjalan dalam irama yang sama, menilai mereka berdasarkan angka, bukan nilai kehidupan.
Saya jadi teringat betapa seringnya kita menyaksikan siswa hebat yang gugur karena tidak "cocok" dengan sistem. Anak yang kritis dicap pembangkang. Anak yang artistik dikatakan tidak serius. Anak yang pendiam disuruh "aktif bicara" tanpa memahami karakternya. Sekolah seolah lupa bahwa manusia bukan produk massal.
Kritik Diel: Sekolah sebagai Penjinak Imajinasi
Pernyataan paling menohok dari buku ini adalah:
"Jika pendidikan adalah cahaya, maka sekolah hari ini adalah lorong gelap yang membingungkan."
Diel tidak sedang membenci pendidikan. Justru sebaliknya. Ia mencintainya, tapi menolak melihat pendidikan dikurung dalam sistem yang sempit. Kritiknya bukan untuk guru perorangan, tapi terhadap sistem pendidikan yang digerakkan oleh birokrasi buta, target kuantitatif, dan ketakutan terhadap kreativitas.
Sekolah seharusnya membebaskan imajinasi, namun dalam realitasnya sering kali justru menjinakkannya. Anak-anak diajarkan untuk menghafal, bukan berpikir. Untuk menjadi ranking satu, bukan manusia utuh.
Refleksi Pribadi: Apakah Saya Korban Sistem Ini?
Membaca Sekolah Dibubarkan Saja membuat saya tidak ingin mengutuk sekolah, tapi mengajak berpikir ulang soal pendidikan. Sekolah bisa tetap ada, tapi harus dibebaskan dari jeratan struktural yang membelenggu. Jika tidak, sekolah hanya akan mencetak robot, bukan manusia.
Penutup: Haruskah Sekolah Dibubarkan?
Judul buku ini memang provokatif. Tapi maksudnya bukan membakar sekolah secara harfiah. Diel ingin membakar kesadaran. Bahwa sekolah yang hanya jadi tempat hafalan dan perlombaan nilai memang layak dibubarkan. Yang perlu dibangun ulang adalah roh pendidikan itu sendiri yang humanis, membebaskan, dan relevan dengan zaman.
Setelah membaca buku ini, saya lebih ingin menjadi bagian dari generasi yang mempertanyakan, bukan hanya mengikuti. Yang mendidik dengan hati, bukan hanya silabus. Yang melihat murid sebagai manusia, bukan angka di rapor.
Dan mungkin, itulah pendidikan yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar