Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2025

Waktu Ashar

 Ashar, senja dan hujan menjelang maghrib 




Sore tadi, langit mulai menggelap. Awan kelabu berarak perlahan, menutupi sisa-sisa cahaya matahari yang mulai meredup. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore, waktu Ashar hampir tiba. Di luar jendela, rintik hujan mulai turun, membasahi dedaunan dan tanah yang kering. Aroma tanah basah bercampur dengan udara yang sejuk, menciptakan suasana yang begitu tenang dan syahdu.

Ashar, bagi umat Muslim, adalah penanda waktu untuk beribadah, sebuah jeda di tengah kesibukan dunia. Di saat yang sama, alam pun menunjukkan keindahannya melalui senja yang mempesona. Perpaduan antara ibadah dan keindahan alam ini menciptakan harmoni yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Senja, dengan warna jingga keemasan yang memudar, selalu menawarkan pesona yang berbeda setiap harinya. Kadang ia hadir dengan warna merah merona, kadang pula dengan warna ungu yang lembut. Namun, sore itu, senja hadir dengan warna kelabu yang sendu, berpadu dengan rintik hujan yang semakin deras.

Hujan yang turun menjelang Maghrib memiliki daya magis tersendiri. Ia membawa kesejukan dan ketenangan, membersihkan debu dan kotoran yang menempel di bumi. Suara rintiknya yang jatuh di atap dan dedaunan menciptakan melodi alam yang menenangkan jiwa.

Di saat seperti ini, hati terasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Keindahan alam yang terpampang di depan mata mengingatkan akan kebesaran-Nya. Suara adzan Maghrib yang berkumandang di kejauhan semakin menambah kekhusyukan suasana.

Ashar, senja, dan hujan menjelang Maghrib adalah tiga hal yang berpadu sempurna, menciptakan sebuah momen yang begitu istimewa. Momen di mana kita bisa merenung, bersyukur, dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Momen yang mengajarkan kita untuk menghargai waktu dan menikmati setiap detik kehidupan.

Minggu, 05 Januari 2025

Makna Politik Kampus

Politik kampus, yang seharusnya menjadi wadah pembelajaran demokrasi dan kolaborasi antar mahasiswa, semakin tercoreng dengan keberadaan partai mahasiswa ilegal yang merusak dinamika sehat di lingkungan akademik. Partai ilegal ini muncul di tengah-tengah ketidakpuasan terhadap sistem politik kampus formal, tetapi justru membawa lebih banyak dampak negatif daripada solusi. Dengan beroperasi tanpa legitimasi resmi, partai mahasiswa ilegal menciptakan polarisasi, menyuburkan intrik, dan membuka peluang bagi praktik-praktik manipulatif seperti kampanye hitam atau penggalangan dukungan dengan cara-cara tidak etis. Keberadaan mereka menjadi cerminan nyata dari bagaimana politik kampus telah kehilangan fokus pada nilai-nilai dasar, yakni memperjuangkan kebutuhan kolektif mahasiswa dan menciptakan ruang inklusif untuk berorganisasi.

Fenomena ini semakin diperparah oleh lemahnya regulasi dan pengawasan dari pihak kampus, yang sering kali tidak mampu membendung pengaruh partai ilegal. Hal ini menciptakan ruang bagi mereka untuk memanfaatkan celah dalam sistem, seperti menekan kebijakan-kebijakan organisasi resmi, memanipulasi pemilu mahasiswa, atau bahkan memonopoli alokasi dana kegiatan untuk kepentingan kelompok mereka sendiri. Pada akhirnya, mahasiswa yang tidak terlibat dalam partai ini justru merasa semakin terpinggirkan, sementara citra politik kampus sebagai arena belajar dan berkembang secara kolektif semakin terdegradasi.

Keberadaan partai mahasiswa ilegal ini juga menjadi pengingat penting bahwa politik kampus perlu segera direformasi. Transparansi, akuntabilitas, dan inklusivitas harus menjadi prioritas utama agar mahasiswa tidak kehilangan kepercayaan terhadap sistem politik yang ada. Semua elemen kampus, mulai dari mahasiswa hingga pihak pengelola, harus bekerja sama untuk menciptakan regulasi yang lebih ketat, membuka ruang diskusi yang lebih inklusif, serta memastikan bahwa organisasi mahasiswa berjalan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan kepentingan bersama. Hanya dengan demikian politik kampus dapat kembali menjadi ruang belajar yang sehat, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan yang penuh intrik dan manipulasi.

Kamis, 02 Januari 2025

Suara Kecil

 Suara Kecil



    Sebagai mahasiswa, kampus seharusnya menjadi tempat yang ideal untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia nyata. Namun, realitas yang saya hadapi setiap hari membuat saya mempertanyakan apakah sistem yang ada benar-benar mendukung hal itu. Banyak hal yang tampaknya tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan semakin lama, rasa frustrasi itu semakin sulit untuk diabaikan.

Tulisan ini bukan untuk menyudutkan, tetapi untuk menggambarkan keresahan saya sebagai mahasiswa yang masih percaya bahwa kampus bisa menjadi tempat yang lebih baik.

1. Birokrasi yang Lambat dan Rumit

Birokrasi kampus adalah salah satu hal yang paling sering dikeluhkan mahasiswa. Proses administrasi seperti pengajuan surat, pengisian KRS, atau pengurusan beasiswa masih terlalu rumit dan memakan waktu.

Saya pernah mendengar keluhan teman-teman yang harus bolak-balik ke bagian administrasi hanya untuk menyelesaikan satu dokumen. Padahal, di era digital seperti sekarang, hal-hal seperti ini seharusnya bisa disederhanakan melalui sistem online yang lebih terintegrasi.

2. Fasilitas Kampus yang Tidak Memadai

Sebagai kampus yang mengusung visi modern dan global, fasilitas di kampus masih belum sepenuhnya mencerminkan visi tersebut. Ruang kelas sering kali terasa kurang nyaman, dengan fasilitas penunjang seperti proyektor atau AC yang terkadang tidak berfungsi optimal.

Laboratorium atau ruang praktik yang seharusnya menjadi tempat mahasiswa memperdalam keterampilan juga belum sepenuhnya memenuhi standar. Sebagai kampus yang berfokus pada logistik dan bisnis, fasilitas teknologi seperti simulasi rantai pasok atau perangkat logistik modern harusnya lebih menjadi prioritas.

3. Kurangnya Transparansi dalam Keuangan Kampus

Sebagai mahasiswa, kami merasa bahwa transparansi keuangan kampus masih jauh dari harapan. Tidak adanya laporan keuangan yang terbuka menimbulkan keresahan tentang bagaimana uang kuliah kami dikelola—apakah benar-benar dialokasikan untuk meningkatkan fasilitas, mendukung kegiatan mahasiswa, atau malah habis untuk kebutuhan seremonial yang tidak dirasakan manfaatnya secara langsung. Ketimpangan ini semakin jelas ketika fasilitas kampus seperti ruang kelas, laboratorium, dan akses teknologi masih tidak memadai, sementara beban administrasi keuangan tetap tinggi. Kegiatan mahasiswa juga sering kali kurang mendapatkan dukungan dana, memaksa kami untuk mencari sponsor atau mengeluarkan biaya pribadi demi menjalankan program yang seharusnya menjadi tanggung jawab kampus. Ironisnya, kampus lebih sibuk membangun citra sebagai institusi modern ketimbang memperbaiki kebutuhan dasar mahasiswa yang menjadi inti keberadaannya. Kami hanya ingin transparansi nyata, laporan keuangan yang terbuka, dan alokasi anggaran yang lebih adil untuk mendukung proses belajar serta pengembangan diri kami. Kritik ini bukanlah upaya untuk menjatuhkan, tetapi panggilan agar kampus berbenah dan menunjukkan bahwa kampus ini benar-benar peduli terhadap mahasiswanya.

4. Minimnya Perhatian terhadap Kesejahteraan Mahasiswa

Di tengah tekanan akademik, mahasiswa juga membutuhkan dukungan dalam aspek kesejahteraan mental dan emosional. Sayangnya, layanan seperti konseling profesional atau program dukungan mental masih jarang terlihat di kampus.

Banyak mahasiswa yang merasa tertekan tetapi tidak tahu harus mengadu ke mana. Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat yang mendukung mahasiswa, bukan hanya dalam aspek akademik tetapi juga kehidupan mereka secara keseluruhan.

5. Fokus pada Citra, Bukan Substansi

Salah satu hal yang cukup membuat saya gelisah adalah kecenderungan kampus untuk lebih memperhatikan citra eksternal dibandingkan kebutuhan mahasiswa. Acara-acara besar sering digelar dengan anggaran yang signifikan, tetapi manfaatnya bagi mahasiswa tidak terasa maksimal.

Prestasi mahasiswa sering diekspos untuk meningkatkan nama baik kampus, tetapi ketika mahasiswa membutuhkan dukungan, respons yang diberikan sering kali tidak memadai. Mahasiswa adalah inti dari kampus, dan mereka seharusnya menjadi prioritas utama.

Harapan untuk Perubahan
Sebagai mahasiswa, saya tidak berharap kampus menjadi sempurna. Saya hanya ingin sistem yang lebih manusiawi—yang mendukung kami untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dengan cara yang adil dan efisien.

Birokrasi yang sederhana, fasilitas yang memadai, transparansi yang jelas, dan perhatian terhadap kesejahteraan mahasiswa bukanlah hal yang mustahil. Saya percaya, jika kampus mulai memperbaiki hal-hal kecil ini, maka perubahan besar akan mengikuti.

Tulisan ini adalah suara keresahan, bukan untuk menyerang, tetapi untuk mengingatkan bahwa kampus adalah tempat kami belajar untuk menjadi lebih baik. Jika sistem yang ada rusak, bagaimana kami bisa tumbuh? Perubahan dimulai dari kesadaran, dan saya berharap, suara kecil ini bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, kampus seharusnya menjadi rumah bagi kami, bukan tempat yang membuat kami merasa tidak dihargai.

Nadiem Makarim Ditahan: Skandal Pengadaan Laptop Chromebook yang Mengguncang Dunia Pendidikan

P ada Kamis, 4 September 2025, Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung) menetapkan Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaa...