Sabtu, 26 Juli 2025

Kebebasan: Antara Pilihan dan Tanggung Jawab

Apa artinya menjadi bebas? Sekilas, kebebasan tampak seperti hak untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Kita sering mendefinisikan kebebasan sebagai ketiadaan batasan atau larangan. Namun, dalam filsafat, kebebasan jauh lebih kompleks daripada sekadar "melakukan apa saja."


Kebebasan Sebagai Hak Individual

Salah satu pemikir yang banyak membahas kebebasan adalah John Stuart Mill. Dalam bukunya On Liberty, Mill menegaskan bahwa kebebasan individu harus dihormati selama tidak merugikan orang lain. Prinsip ini dikenal sebagai harm principle. Menurut Mill, masyarakat tidak boleh membatasi kebebasan seseorang hanya karena perilaku tersebut dianggap tidak bermoral atau menyimpang, selama tindakan itu tidak membahayakan pihak lain.

Pendekatan Mill ini relevan dalam kehidupan modern. Kita hidup di era di mana kebebasan berekspresi menjadi nilai utama, tetapi kita juga diingatkan untuk bertanggung jawab atas dampak dari tindakan kita. Kebebasan bukan sekadar hak, melainkan juga tanggung jawab sosial.

Kebebasan dan Kecemasan: Perspektif Eksistensial

Berbeda dengan Mill, Jean-Paul Sartre memandang kebebasan dari perspektif eksistensial. Bagi Sartre, manusia “dikutuk untuk bebas.” Artinya, kita memiliki kebebasan mutlak untuk memilih, tetapi kebebasan itu datang bersama tanggung jawab penuh atas pilihan kita. Tidak ada takdir atau kekuatan eksternal yang menentukan hidup kita selain keputusan kita sendiri.

Namun, kebebasan ini tidak selalu membebaskan kadang justru membebani. Sartre menyebut perasaan ini sebagai angst atau kecemasan eksistensial. Ketika menyadari bahwa setiap keputusan ada di tangan kita, kita dihadapkan pada beban moral dan konsekuensi yang tak terelakkan.

Contoh konkret dari konsep ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memilih jurusan kuliah, misalnya, kita memiliki kebebasan penuh untuk menentukan arah hidup. Tetapi, kebebasan ini membawa tanggung jawab besar: apakah keputusan ini mencerminkan nilai dan tujuan hidup kita?

Apakah Kita Benar-Benar Bebas?

Sementara Mill dan Sartre menekankan kebebasan sebagai hak individu dan tanggung jawab pribadi, Michel Foucault menawarkan perspektif kritis. Ia berpendapat bahwa kebebasan kita sebenarnya dibentuk oleh struktur kekuasaan yang tak kasat mata. Institusi seperti sekolah, pemerintah, dan media membentuk cara kita berpikir, bertindak, bahkan mendefinisikan kebebasan itu sendiri.

Misalnya, kita mungkin merasa bebas dalam memilih pekerjaan, tetapi pilihan tersebut sering kali dipengaruhi oleh norma sosial atau ekonomi. Menurut Foucault, memahami bagaimana kekuasaan bekerja memungkinkan kita menyadari batas-batas kebebasan yang sebelumnya tak terlihat.

Kebebasan: Hak, Beban, atau Ilusi?

Dari ketiga pandangan ini, kita bisa melihat bahwa kebebasan bukanlah konsep tunggal atau sederhana. Kebebasan bisa menjadi hak yang harus dijaga (Mill), tanggung jawab yang menuntut keberanian (Sartre), atau bahkan sesuatu yang dibentuk dan dibatasi oleh kekuasaan (Foucault).

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar bebas? Atau apakah kebebasan kita hanya ilusi yang dibentuk oleh lingkungan? Pada akhirnya, filsafat kebebasan mengajak kita untuk merenungkan kembali hubungan antara pilihan, tanggung jawab, dan batasan yang sering tak kasat mata.

Barangkali, kebebasan yang paling otentik adalah kesadaran akan batas-batas ini, sekaligus keberanian untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nadiem Makarim Ditahan: Skandal Pengadaan Laptop Chromebook yang Mengguncang Dunia Pendidikan

P ada Kamis, 4 September 2025, Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung) menetapkan Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaa...