Sejak kecil, saya cenderung punya cara berpikir yang berbeda soal kegagalan. Tidak seperti teman-teman saya yang seringkali marah, kecewa, atau merasa rendah diri ketika gagal, saya justru terbiasa berpikir,
"Ya sudah, memang belum rezekinya."
Entah kenapa, respons saya terhadap kegagalan selalu datar. Bukan berarti saya tidak punya ambisi atau keinginan kuat, tapi saya selalu merasa bahwa beberapa hal memang terjadi di luar kendali kita, jadi buat apa terlalu lama larut dalam kesedihan?
Tapi saya juga pernah bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah saya ini terlalu cuek atau memang ada cara pandang yang seperti ini?"
Jawaban itu baru saya temukan saat kuliah, ketika saya membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku ini memperkenalkan saya pada Filsafat Stoik (Stoicism), sebuah aliran pemikiran kuno dari Yunani-Romawi yang ternyata sangat dekat dengan cara berpikir saya selama ini. Ternyata, apa yang saya rasakan dan jalani selama ini bukan sekadar kebiasaan atau karakter pribadi, tapi memang ada basis filsafatnya.
Mengenal Stoikisme: Menerjemahkan Naluri Menjadi Filsafat
Bagi saya pribadi, Filosofi Teras adalah konfirmasi bahwa cara saya memandang kegagalan dan kehidupan sehari-hari ternyata punya dasar yang kuat. Tokoh-tokoh Stoik seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus punya pandangan yang sangat jernih soal kehidupan:
Bedakan apa yang bisa kita kendalikan, dan apa yang tidak.
Selama ini saya memang sudah menjalani prinsip itu tanpa sadar. Tapi setelah membaca lebih jauh, saya jadi tahu bahwa inilah yang disebut dengan Dikotomi Kendali dalam Stoikisme. Pemahaman ini bukan sekadar membuat kita lebih tenang, tapi juga lebih efisien dalam menggunakan energi mental:
-
Kalau saya gagal dalam sesuatu yang sudah saya upayakan dengan maksimal, berarti memang bukan di jalur itu rezeki saya.
-
Kalau ada situasi buruk yang terjadi, saya fokus pada bagaimana saya meresponnya, bukan pada siapa yang harus saya salahkan.
Buku Filosofi Teras memperkaya perspektif itu dengan bahasa yang lebih modern dan relevan, terutama di era penuh tekanan sosial seperti sekarang.
Kegagalan Bukan Musuh, Tapi Guru
Bagi sebagian orang, kegagalan adalah musuh yang menakutkan. Tapi bagi saya, kegagalan justru seperti pengingat alami:
"Ini tandanya ada yang perlu diperbaiki, atau mungkin memang ini bukan jalurmu."
Saya tidak pernah benar-benar takut gagal. Bukan karena saya tidak punya rasa kecewa, tapi karena saya tahu bahwa:
-
Nilai diri saya tidak ditentukan oleh hasil.
-
Saya bisa belajar dari kesalahan yang terjadi.
-
Dan yang terpenting, saya tetap bisa memilih untuk melangkah lagi.
Setelah membaca Filosofi Teras, saya jadi lebih memahami bahwa sikap ini selaras dengan prinsip Amor Fati dalam Stoikisme:
Mencintai takdir apa adanya.
Bukan sekadar menerima pasrah, tapi mencintai semua peristiwa dalam hidup baik atau buruk, karena semuanya adalah bagian dari pembentukan diri.
Premeditatio Malorum: Berpikir Kegagalan Sejak Awal
Satu konsep Stoik yang membuat saya makin kuat dalam menyikapi kegagalan adalah Premeditatio Malorum, yaitu membayangkan segala kemungkinan buruk sebelum memulai sesuatu.
Tanpa saya sadari, saya memang selalu punya mental untuk membayangkan:
"Kalau ternyata gagal, apa yang akan saya lakukan?"
saya punya pengalaman ketika saat itu kelas 12 SMA dimana saat saya menjadi ketua OSIS setiap kegiatan atau proker besar yang saya pegang atau bertanggung jawab atas kegiatan tersebut saya selalu menanamkan kepada teman-teman saya untuk berpikir terkait kegagalan yang mungkin saja terjadi. Saya selalu meminta mereka untuk berpikir kalau ada kejadian yang tidak berjalan sesuai rencana maka apa yang harus kita lakukan?
Ini bukan pesimisme, tapi cara untuk memperkuat mental agar tidak mudah hancur ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Setiap langkah sudah disertai dengan kesiapan mental untuk menerima berbagai skenario. Jadi, ketika kegagalan itu benar-benar terjadi, saya tidak sibuk marah atau menyalahkan diri sendiri dan bahkan kita menyiapkan suatu rencana yang lain ketika hal itu terjadi.
Kegagalan di Era Modern: Tekanan Sosial vs Ketenangan Stoik
Kita hidup di zaman yang serba cepat, penuh standar kesuksesan instan. Di media sosial, orang berlomba memamerkan keberhasilan mereka. Tanpa sadar, ini menciptakan tekanan kolektif: seolah-olah gagal itu memalukan dan harus disembunyikan.
Tapi dengan perspektif Stoik, saya belajar untuk tidak terjebak dalam permainan citra itu. Gagal adalah hal biasa. Semua orang mengalaminya, hanya saja tidak semua orang mau jujur mengakuinya.
Bagi saya, keberanian untuk menerima kegagalan dengan kepala tegak adalah bentuk ketenangan batin. Ini bukan soal terlihat kuat di luar, tapi benar-benar damai dengan diri sendiri di dalam.
Refleksi: Stoikisme Menguatkan Apa yang Sudah Saya Yakini
Ketika saya membaca Filosofi Teras, saya tidak merasa diajari sesuatu yang benar-benar baru. Tapi lebih pada:
Saya menemukan bahasa dan kerangka berpikir yang lebih terstruktur untuk sikap yang selama ini sudah saya jalani.
Saya jadi lebih sadar bahwa:
-
Tidak semua hal harus dikontrol
-
Reaksi kita terhadap kegagalan jauh lebih penting daripada kegagalan itu sendiri
-
Ketenangan bukan berarti tidak punya emosi, tapi tahu kapan dan bagaimana mengekspresikannya
Stoikisme, Jalan Panjang Menjadi Tangguh
Bagi saya, menjadi Stoic bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Tapi justru merasakan semua emosi dengan sadar, tanpa menjadi budak dari emosi itu. Setiap kegagalan tetap menorehkan kecewa, tapi saya tahu kecewa itu hanya fase, bukan akhir.
Stoikisme mengajarkan saya untuk tetap berjalan, sekecil apa pun langkahnya. Karena hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat atau paling sukses, tapi siapa yang paling bisa berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan diri.
Kalau kamu sering merasa kecewa atau terpuruk karena kegagalan, mungkin ada baiknya mengenal Stoikisme. Siapa tahu, seperti saya, kamu juga menemukan bahwa sebenarnya kamu sudah Stoic dari awal, hanya saja belum menyadarinya.