Rabu, 30 Juli 2025

Sekolah Dibubarkan Saja!

 "Bukan sekolah yang rusak, tapi sistem pendidikan yang membusuk pelan-pelan."



Membaca buku Sekolah Dibubarkan Saja karya Chu Diel bukan hanya seperti membuka lembar demi lembar kertas, tapi juga membuka luka dan pertanyaan tentang sistem pendidikan yang selama ini kita anggap suci dan tak boleh diganggu gugat. Buku ini tidak menawarkan solusi manis. Ia menggugat, mengkritik, dan memukul keras wajah pendidikan formal yang penuh ilusi.

Saya membaca buku ini saat sudah melewati bangku sekolah, dan mungkin karena itulah saya bisa mengaminkan sebagian besar kegelisahan yang ditulis Diel. Dalam bentuk narasi tajam dan satire yang menggugah, Diel mempertanyakan:
Mengapa sekolah sering kali melumpuhkan potensi anak, bukan mengembangkan?
Mengapa kurikulum seperti disusun untuk mencetak buruh, bukan manusia berpikir?
Apakah benar sekolah membuat kita pintar, atau hanya jinak dan patuh?

Sekolah, Institusi atau Mesin?

Dalam buku ini, Diel menunjukkan bahwa sekolah bukan lagi sekadar ruang belajar, tapi telah menjelma menjadi pabrik homogenisasi memaksa semua anak berpikir seragam, berjalan dalam irama yang sama, menilai mereka berdasarkan angka, bukan nilai kehidupan.

Saya jadi teringat betapa seringnya kita menyaksikan siswa hebat yang gugur karena tidak "cocok" dengan sistem. Anak yang kritis dicap pembangkang. Anak yang artistik dikatakan tidak serius. Anak yang pendiam disuruh "aktif bicara" tanpa memahami karakternya. Sekolah seolah lupa bahwa manusia bukan produk massal.

Kritik Diel: Sekolah sebagai Penjinak Imajinasi

Pernyataan paling menohok dari buku ini adalah:

"Jika pendidikan adalah cahaya, maka sekolah hari ini adalah lorong gelap yang membingungkan."

Diel tidak sedang membenci pendidikan. Justru sebaliknya. Ia mencintainya, tapi menolak melihat pendidikan dikurung dalam sistem yang sempit. Kritiknya bukan untuk guru perorangan, tapi terhadap sistem pendidikan yang digerakkan oleh birokrasi buta, target kuantitatif, dan ketakutan terhadap kreativitas.

Sekolah seharusnya membebaskan imajinasi, namun dalam realitasnya sering kali justru menjinakkannya. Anak-anak diajarkan untuk menghafal, bukan berpikir. Untuk menjadi ranking satu, bukan manusia utuh.

Refleksi Pribadi: Apakah Saya Korban Sistem Ini?

Sebagai seseorang yang pernah merasakan "berhasil" di sistem ini nilai baik, masuk universitas, lulus. saya kini bertanya: apakah benar itu tanda kesuksesan? Atau saya hanya kebetulan cocok dengan sistem?
Berapa banyak teman saya yang pintar tapi dihukum karena tidak sesuai dengan "standar sekolah"?
Berapa banyak potensi yang terkubur karena tidak muat dalam kurikulum?

Membaca Sekolah Dibubarkan Saja membuat saya tidak ingin mengutuk sekolah, tapi mengajak berpikir ulang soal pendidikan. Sekolah bisa tetap ada, tapi harus dibebaskan dari jeratan struktural yang membelenggu. Jika tidak, sekolah hanya akan mencetak robot, bukan manusia.

Penutup: Haruskah Sekolah Dibubarkan?

Judul buku ini memang provokatif. Tapi maksudnya bukan membakar sekolah secara harfiah. Diel ingin membakar kesadaran. Bahwa sekolah yang hanya jadi tempat hafalan dan perlombaan nilai memang layak dibubarkan. Yang perlu dibangun ulang adalah roh pendidikan itu sendiri  yang humanis, membebaskan, dan relevan dengan zaman.

Setelah membaca buku ini, saya lebih ingin menjadi bagian dari generasi yang mempertanyakan, bukan hanya mengikuti. Yang mendidik dengan hati, bukan hanya silabus. Yang melihat murid sebagai manusia, bukan angka di rapor.

Dan mungkin, itulah pendidikan yang sesungguhnya.

Sabtu, 26 Juli 2025

Kebebasan: Antara Pilihan dan Tanggung Jawab

Apa artinya menjadi bebas? Sekilas, kebebasan tampak seperti hak untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Kita sering mendefinisikan kebebasan sebagai ketiadaan batasan atau larangan. Namun, dalam filsafat, kebebasan jauh lebih kompleks daripada sekadar "melakukan apa saja."


Kebebasan Sebagai Hak Individual

Salah satu pemikir yang banyak membahas kebebasan adalah John Stuart Mill. Dalam bukunya On Liberty, Mill menegaskan bahwa kebebasan individu harus dihormati selama tidak merugikan orang lain. Prinsip ini dikenal sebagai harm principle. Menurut Mill, masyarakat tidak boleh membatasi kebebasan seseorang hanya karena perilaku tersebut dianggap tidak bermoral atau menyimpang, selama tindakan itu tidak membahayakan pihak lain.

Pendekatan Mill ini relevan dalam kehidupan modern. Kita hidup di era di mana kebebasan berekspresi menjadi nilai utama, tetapi kita juga diingatkan untuk bertanggung jawab atas dampak dari tindakan kita. Kebebasan bukan sekadar hak, melainkan juga tanggung jawab sosial.

Kebebasan dan Kecemasan: Perspektif Eksistensial

Berbeda dengan Mill, Jean-Paul Sartre memandang kebebasan dari perspektif eksistensial. Bagi Sartre, manusia “dikutuk untuk bebas.” Artinya, kita memiliki kebebasan mutlak untuk memilih, tetapi kebebasan itu datang bersama tanggung jawab penuh atas pilihan kita. Tidak ada takdir atau kekuatan eksternal yang menentukan hidup kita selain keputusan kita sendiri.

Namun, kebebasan ini tidak selalu membebaskan kadang justru membebani. Sartre menyebut perasaan ini sebagai angst atau kecemasan eksistensial. Ketika menyadari bahwa setiap keputusan ada di tangan kita, kita dihadapkan pada beban moral dan konsekuensi yang tak terelakkan.

Contoh konkret dari konsep ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memilih jurusan kuliah, misalnya, kita memiliki kebebasan penuh untuk menentukan arah hidup. Tetapi, kebebasan ini membawa tanggung jawab besar: apakah keputusan ini mencerminkan nilai dan tujuan hidup kita?

Apakah Kita Benar-Benar Bebas?

Sementara Mill dan Sartre menekankan kebebasan sebagai hak individu dan tanggung jawab pribadi, Michel Foucault menawarkan perspektif kritis. Ia berpendapat bahwa kebebasan kita sebenarnya dibentuk oleh struktur kekuasaan yang tak kasat mata. Institusi seperti sekolah, pemerintah, dan media membentuk cara kita berpikir, bertindak, bahkan mendefinisikan kebebasan itu sendiri.

Misalnya, kita mungkin merasa bebas dalam memilih pekerjaan, tetapi pilihan tersebut sering kali dipengaruhi oleh norma sosial atau ekonomi. Menurut Foucault, memahami bagaimana kekuasaan bekerja memungkinkan kita menyadari batas-batas kebebasan yang sebelumnya tak terlihat.

Kebebasan: Hak, Beban, atau Ilusi?

Dari ketiga pandangan ini, kita bisa melihat bahwa kebebasan bukanlah konsep tunggal atau sederhana. Kebebasan bisa menjadi hak yang harus dijaga (Mill), tanggung jawab yang menuntut keberanian (Sartre), atau bahkan sesuatu yang dibentuk dan dibatasi oleh kekuasaan (Foucault).

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar bebas? Atau apakah kebebasan kita hanya ilusi yang dibentuk oleh lingkungan? Pada akhirnya, filsafat kebebasan mengajak kita untuk merenungkan kembali hubungan antara pilihan, tanggung jawab, dan batasan yang sering tak kasat mata.

Barangkali, kebebasan yang paling otentik adalah kesadaran akan batas-batas ini, sekaligus keberanian untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Senin, 21 Juli 2025

Terlahir Sebagai Stoic: Refleksi Setelah Membaca Filosofi Teras

 

Sejak kecil, saya cenderung punya cara berpikir yang berbeda soal kegagalan. Tidak seperti teman-teman saya yang seringkali marah, kecewa, atau merasa rendah diri ketika gagal, saya justru terbiasa berpikir,

"Ya sudah, memang belum rezekinya."

Entah kenapa, respons saya terhadap kegagalan selalu datar. Bukan berarti saya tidak punya ambisi atau keinginan kuat, tapi saya selalu merasa bahwa beberapa hal memang terjadi di luar kendali kita, jadi buat apa terlalu lama larut dalam kesedihan?

Tapi saya juga pernah bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah saya ini terlalu cuek atau memang ada cara pandang yang seperti ini?"

Jawaban itu baru saya temukan saat kuliah, ketika saya membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Buku ini memperkenalkan saya pada Filsafat Stoik (Stoicism), sebuah aliran pemikiran kuno dari Yunani-Romawi yang ternyata sangat dekat dengan cara berpikir saya selama ini. Ternyata, apa yang saya rasakan dan jalani selama ini bukan sekadar kebiasaan atau karakter pribadi, tapi memang ada basis filsafatnya.



Mengenal Stoikisme: Menerjemahkan Naluri Menjadi Filsafat

Bagi saya pribadi, Filosofi Teras adalah konfirmasi bahwa cara saya memandang kegagalan dan kehidupan sehari-hari ternyata punya dasar yang kuat. Tokoh-tokoh Stoik seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus punya pandangan yang sangat jernih soal kehidupan:

Bedakan apa yang bisa kita kendalikan, dan apa yang tidak.

Selama ini saya memang sudah menjalani prinsip itu tanpa sadar. Tapi setelah membaca lebih jauh, saya jadi tahu bahwa inilah yang disebut dengan Dikotomi Kendali dalam Stoikisme. Pemahaman ini bukan sekadar membuat kita lebih tenang, tapi juga lebih efisien dalam menggunakan energi mental:

  • Kalau saya gagal dalam sesuatu yang sudah saya upayakan dengan maksimal, berarti memang bukan di jalur itu rezeki saya.

  • Kalau ada situasi buruk yang terjadi, saya fokus pada bagaimana saya meresponnya, bukan pada siapa yang harus saya salahkan.

Buku Filosofi Teras memperkaya perspektif itu dengan bahasa yang lebih modern dan relevan, terutama di era penuh tekanan sosial seperti sekarang.

Kegagalan Bukan Musuh, Tapi Guru

Bagi sebagian orang, kegagalan adalah musuh yang menakutkan. Tapi bagi saya, kegagalan justru seperti pengingat alami:

"Ini tandanya ada yang perlu diperbaiki, atau mungkin memang ini bukan jalurmu."

Saya tidak pernah benar-benar takut gagal. Bukan karena saya tidak punya rasa kecewa, tapi karena saya tahu bahwa:

  • Nilai diri saya tidak ditentukan oleh hasil.

  • Saya bisa belajar dari kesalahan yang terjadi.

  • Dan yang terpenting, saya tetap bisa memilih untuk melangkah lagi.

Setelah membaca Filosofi Teras, saya jadi lebih memahami bahwa sikap ini selaras dengan prinsip Amor Fati dalam Stoikisme:

Mencintai takdir apa adanya.

Bukan sekadar menerima pasrah, tapi mencintai semua peristiwa dalam hidup baik atau buruk, karena semuanya adalah bagian dari pembentukan diri.

Premeditatio Malorum: Berpikir Kegagalan Sejak Awal

Satu konsep Stoik yang membuat saya makin kuat dalam menyikapi kegagalan adalah Premeditatio Malorum, yaitu membayangkan segala kemungkinan buruk sebelum memulai sesuatu.

Tanpa saya sadari, saya memang selalu punya mental untuk membayangkan:

"Kalau ternyata gagal, apa yang akan saya lakukan?"

saya punya pengalaman ketika saat itu kelas 12 SMA dimana saat saya menjadi ketua OSIS setiap kegiatan atau proker besar yang saya pegang atau bertanggung jawab atas kegiatan tersebut saya selalu menanamkan kepada teman-teman saya untuk berpikir terkait kegagalan yang mungkin saja terjadi. Saya selalu meminta mereka untuk berpikir kalau ada kejadian yang tidak berjalan sesuai rencana maka apa yang harus kita lakukan?

Ini bukan pesimisme, tapi cara untuk memperkuat mental agar tidak mudah hancur ketika kenyataan tidak sesuai harapan. Setiap langkah sudah disertai dengan kesiapan mental untuk menerima berbagai skenario. Jadi, ketika kegagalan itu benar-benar terjadi, saya tidak sibuk marah atau menyalahkan diri sendiri dan bahkan kita menyiapkan suatu rencana yang lain ketika hal itu terjadi.

Kegagalan di Era Modern: Tekanan Sosial vs Ketenangan Stoik

Kita hidup di zaman yang serba cepat, penuh standar kesuksesan instan. Di media sosial, orang berlomba memamerkan keberhasilan mereka. Tanpa sadar, ini menciptakan tekanan kolektif: seolah-olah gagal itu memalukan dan harus disembunyikan.

Tapi dengan perspektif Stoik, saya belajar untuk tidak terjebak dalam permainan citra itu. Gagal adalah hal biasa. Semua orang mengalaminya, hanya saja tidak semua orang mau jujur mengakuinya.

Bagi saya, keberanian untuk menerima kegagalan dengan kepala tegak adalah bentuk ketenangan batin. Ini bukan soal terlihat kuat di luar, tapi benar-benar damai dengan diri sendiri di dalam.

Refleksi: Stoikisme Menguatkan Apa yang Sudah Saya Yakini

Ketika saya membaca Filosofi Teras, saya tidak merasa diajari sesuatu yang benar-benar baru. Tapi lebih pada:

Saya menemukan bahasa dan kerangka berpikir yang lebih terstruktur untuk sikap yang selama ini sudah saya jalani.

Saya jadi lebih sadar bahwa:

  • Tidak semua hal harus dikontrol

  • Reaksi kita terhadap kegagalan jauh lebih penting daripada kegagalan itu sendiri

  • Ketenangan bukan berarti tidak punya emosi, tapi tahu kapan dan bagaimana mengekspresikannya

Stoikisme, Jalan Panjang Menjadi Tangguh

Bagi saya, menjadi Stoic bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Tapi justru merasakan semua emosi dengan sadar, tanpa menjadi budak dari emosi itu. Setiap kegagalan tetap menorehkan kecewa, tapi saya tahu kecewa itu hanya fase, bukan akhir.

Stoikisme mengajarkan saya untuk tetap berjalan, sekecil apa pun langkahnya. Karena hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat atau paling sukses, tapi siapa yang paling bisa berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan diri.

Kalau kamu sering merasa kecewa atau terpuruk karena kegagalan, mungkin ada baiknya mengenal Stoikisme. Siapa tahu, seperti saya, kamu juga menemukan bahwa sebenarnya kamu sudah Stoic dari awal, hanya saja belum menyadarinya.

Nadiem Makarim Ditahan: Skandal Pengadaan Laptop Chromebook yang Mengguncang Dunia Pendidikan

P ada Kamis, 4 September 2025, Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung) menetapkan Nadiem Makarim, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaa...